Perawan dewasa memiliki ciri-ciri ini — dan ukuran memang penting

dewasa

Tampaknya beberapa orang terlalu pintar untuk berhubungan seks.

Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa ada banyak hal yang lebih penting daripada sekadar menjadi bujangan yang “pilih-pilih”.

Penelitian menemukan bahwa ketidakberseksualan dikaitkan dengan campuran genetika, kebiasaan sosial, dan jenis pilihan gaya hidup yang dapat membuat Anda menjadi orang yang digeser ke kiri oleh semua orang.

Sebuah studi yang diterbitkan di PNAS menganalisis data lebih dari 400.000 orang dewasa, termasuk 13.500 warga Australia dan 405.117 penduduk Inggris. Di antara para peserta, 3.929 melaporkan tidak pernah melakukan hubungan seksual vaginal, oral, atau anal, dan temuan ini menggambarkan gambaran kompleks tentang faktor-faktor di balik status nir-seksual mereka, mulai dari sifat genetik hingga kondisi kesehatan mental, pengaruh regional, dan bahkan perilaku sosial.

Bagi kaum pria, faktor-faktor seperti kekuatan genggaman, ukuran tubuh, pendapatan, mendengkur, kebiasaan menggunakan ponsel, kepuasan hidup, dan memiliki seseorang untuk diajak bicara lebih kuat kaitannya dengan ketidakseksian seksual.

Sebaliknya, bagi wanita, aspek terkait pekerjaan seperti jam kerja lebih erat kaitannya dengan tidak memiliki anak, sementara pendapatan dan adanya hubungan dekat dan saling percaya merupakan prediktor yang lebih signifikan bagi pria.

Sementara itu, baik pria maupun wanita, individu-individu ini juga cenderung berpendidikan tinggi, tertutup, dan, anehnya, memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi — mereka terlalu pintar untuk peduli dengan seks.

Dr. Brendan Zietsch, Associate Professor di Universitas Queensland dan penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa ciri-ciri seperti rabun jauh sejak dini atau penggunaan kacamata dapat memengaruhi pengalaman berpacaran di masa remaja.

“Mengenakan kacamata di usia dini, dan ciri-ciri lain yang dianggap ‘kutu buku’, dapat memengaruhi pengalaman berpacaran remaja,” tulis Zietsch . “Hal ini, pada gilirannya, dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang dalam hubungan romantis hingga dewasa.” Ciri-ciri ini, catatnya, dapat memengaruhi peluang sosial dan, pada akhirnya, prospek romantis.

Ketidakmampuan seksual juga tampaknya berkorelasi dengan berbagai ciri kesehatan mental, termasuk prevalensi gangguan spektrum autisme (ASD) dan anoreksia yang lebih tinggi. Menariknya, depresi, kecemasan, dan ADHD lebih jarang terjadi pada mereka yang tidak pernah berhubungan seks, menurut data tersebut.

Namun, temuan studi yang paling mengejutkan mungkin adalah bahwa individu tanpa jenis kelamin cenderung menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih tinggi, yang sering dikaitkan dengan pendidikan tinggi atau introvert.

Pola perilaku juga memainkan peran penting. Peserta tanpa pengalaman seksual melaporkan lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk ponsel, lebih sedikit kunjungan ke teman dan keluarga, dan berkurangnya kesempatan untuk bersosialisasi atau menjalin hubungan yang mendalam. Pola-pola ini sejalan dengan isolasi sosial, yang berpotensi menghambat peluang untuk menjalin hubungan romantis.

Meskipun studi tersebut menemukan bahwa faktor genetika menyumbang sekitar 15 persen variasi dalam ketiadaan jenis kelamin, faktor-faktor lainnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Faktor regional dan sosial ekonomi tampaknya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas seksual, terutama pada pria.

Studi tersebut mengungkap bahwa pria cenderung tidak melakukan hubungan seksual di daerah dengan jumlah wanita lebih sedikit dan ketimpangan pendapatan lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan ekonomi setempat membentuk peluang seksual.

Zietsch juga menyoroti interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. “Korelasi genetik menunjukkan bahwa gen yang terkait dengan satu sifat juga terkait dengan sifat lainnya,” jelasnya. “Dengan cara ini, kami menemukan serangkaian hubungan menarik antara ketiadaan jenis kelamin dan sifat-sifat lainnya.”

Studi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetika yang diwariskan dan realitas sosial bertanggung jawab atas kurangnya pengalaman seksual seseorang.

Mengenai alasan di balik fenomena ini, studi ini masih menyisakan banyak pertanyaan yang harus dijawab. Salah satu ketidakpastian utama adalah apakah ketiadaan seksual merupakan pilihan sukarela atau hasil yang tidak disengaja. Para peneliti berhati-hati untuk mencatat bahwa mereka hanya mengumpulkan data tentang apakah individu pernah berhubungan seks, bukan tentang apakah mereka menginginkan seks.

“Banyak individu tanpa jenis kelamin dalam sampel tersebut mungkin aseksual,” imbuh Zietsch, mengakui bahwa temuan tersebut kemungkinan mencerminkan campuran antara ketidakberseksan yang disengaja dan tidak disengaja.

Selain itu, penelitian ini mengangkat kemungkinan bahwa kurangnya pengalaman seksual itu sendiri dapat berkontribusi pada ketidakbahagiaan dan kesepian, atau bahwa kondisi emosional ini dapat mempersulit pencarian pasangan. Penelitian ini menyoroti hubungan timbal balik yang rumit antara isolasi sosial, kesejahteraan emosional, dan aktivitas seksual.

Meskipun ketidakberdayaan seksual merupakan kenyataan bagi banyak orang, jelas bahwa alasannya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Post Comment